Sehangat Kasih Ibu
Ibu...separoh napasmu tlah menemani perjalananku
Tlah tenggelam aku dalam lautan kasih sayangmu
Ibu...doa-doa yang tlah kau senandungkan untukku mengalir di aliran darahku,di hembusan napasku ,di detak jantungku ,memberi kekuatan di setiap langkahku
Ibu...tlah kau rangkai pelangi kehidupan untukku di setiap air matamu,lukamu,dan senyummu
Maafkan aku Ibu ,belum mampu melakukan seperti apa yang Ibu lakukan padaku
Maafkan aku Ibu ,sampai detik ini belum bisa menjadi penawar luka-lukamu
Maafkan aku yang belum mampu meraih pelangi untukmu
Tunggulah Ibu saat itu akan datang di saat istana kebahagian tlah ku bangun untukmu
Ku hentikan gerak pulpen di tanganku, berhenti menggores catatan hidupku di setiap lembaran-lembaran diary yang menemani hari-hariku. Ku tatap foto Ibu tersenyum manis yang ada di meja belajarku, Ibu yang berjuang melawan rasa sakit tiada tara demi menyelamatkanku, Ibu yang rela memberikan separoh napasnya untukku, Ibu yang sentiasa menyediakan pundaknya di saat sungai kecil di pelupuk mataku tak terbendung lagi, Ibu yang selalu ada jemarinya membuat aku tetap berdiri di saat dunia membuat aku terjatuh, Ibuku yang tegar, Ibu yang sentiasa tersenyum ketika segaris luka menggores hatinya, Ibu yang membuat aku mengerti akan arti kehidupan, Ibu sekaligus ayah bagiku.
“Ayah”ah nama itu telah lama terkubur dalam sanubariku, tak ingin rasanya aku membuka kembali episode luka dalam hidupku. Enam tahun yang lalu Ayah pergi meninggalkan kami, Ayah pergi bersama wanita lain.Ayah lebih memilih wanita lain dan pergi meninggalkan kami,menyisakan serpihan luka bagiku,ari,dan terutama Ibu.Istana cinta yang di bangun ayah dan ibu selama tujuh belas tahun hancur bagai di hempas gelombang.Tak bisa ku bayangkan betapa hancurnya hati Ibu saat itu, Ayah yang seperti arjuna di mata Ibu ternyata menorehkan luka di hati Ibu, aku tidak habis pikir kenapa Ayah begitu tega menyakiti hati wanita sebaik Ibu? “kak, bukankah wanita yang baik untuk laki-laki yang baik juga, tapi kenapa ayah tak sebaik ibu?,kenapa ayah tega melukai hati ibu?”Tanyaku pada salah seorang kakak seniorku di saat rasa benci pada ayah pernah menyelimuti hatiku.
”Naila,wanita yang baik-baik pasti selalu untuk laki-laki yang baik juga, pasti ada jodoh yang lebih baik tlah di persiapkan ALLAH untuk Ibu Naila, walaupun tidak di pertemukan di dunia insya ALLAH laki-laki itu telah menunggu ibu naila di syurga ALLAH.” Jelas kakak seniorku dengan lembut.
Ya ALLAH inikah yang di namakan takdir, sebuah episode luka yang memang telah tertulis di skanarioMu.
Seiring berlalunya waktu kami telah terbiasa hidup tanpa ayah berusha ikhlas menjalani setiap skanarioNya. " Nai, luka itu bagaikan guru,guru yang mendidik kita menjadi kuat,kuat untuk terus melangkah, luka mengajarkan kita arti kehidupan, luka juga membuat kita semakin dekat dengan sang pemilik kehidupan memasrahkan diri di atas segla kehendaknya. Nai jangan pernah membenci ayah, di dalam darah nai ada aliran darah Ayah, ada peluh Ayah, maafkanlah nai, tiada yang lebih indah di dunia ini ketika kita mampu memaafkan di saat hati menangis, tunjukan pada dunia kita mampu tersenyum ketika ia menjanjikan air mata.” Penjelasan lembut dan penuh hikmah keluar dari lisan Ibu di saat aku dan Ibu bercerita di beranda rumah kami.
Duhai Ibu setegar itukah dirimu, betapa beningnya hatimu, Ya ALLAH payungi Ibu dengan payung kasih sayangMu, biarkan tabah sentiasa berlabuh di hati Ibu. Ku biarkan bening-bening hangat terus mengalir ke pipiku, mengalirkan segala lukaku, ingin ku tutup rapat-rapat episode luka dalam hidupku di ruang yang takkan tertembus cahaya agar tiada lagi kegetiran dalam hatiku. Aku harus melangkah, melangkah menjadi penawar luka-luka Ibu.
***
Fajar tlah menjelma suara adzan subuh bergema ke seluruh alam memecahkan kesunyian pagi. Seusai mengerjakan sholat subuh ku buka jendela kamarku menyaksikan fenomena fajar, menghirup segarnya udara pagi, sang mentari mulai tersenyum di ufuk timur cakrawala, alam menggeliat bangun, burung-burung berdendang,sepertinya hari ini akan terlihat cerah.
Hari ini adalah jadwalku mengajar, semenjak aku memasuki semester dua dalam perkuliahan aku telah mandiri ingin meringkan beban Ibu. Setelah kepergian Ayah, Ibu harus bekerja membanting tulang untuk menghidupi kami. Gaji ibu sebagai guru sekolah dasar belum mencukupi kebutuhan kami, apalagi semenjak aku kuliah tentu membutuhkan biaya yang sangat besar, belum lagi biaya sekolah Ari, adekku yang masih duduk di bangku SMA juga membutuhkan biaya yang besar. Awalnya aku tidak ingin melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi mengingat kondisi ekonomi kami, tetapi Ibu tidak menginkan aku berhenti sampai di tingkat SMA, Ibu menginkan aku menjadi orang succes yang mempunyai pendidikan tinggi. “sayang, menutut ilmu adalah kewajiban bagi kita, masih ingatkan khan apa yang di katakan RASULLAH tuntulah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat, apa yang Naila takutkan rizqy ALLAH yg mengatur kita hanya berusaha, bukankah di mana ada kemauan di situ ada jalan, suatu hari nanti Ibu ingin melihat senyuman naila di saat wisuda”. Nasehat Ibu padaku tiga tahun yang lalu. Betapa pedulinya Ibu dengan pendidikanku. Akhrinya aku di terima di salah satu universitas di luar Riau.
Semenjak aku kuliah membuat Ibu semakin bekerja keras,di waktu-waktu senggang Ibu mencari pekerjaan sampingan, nyaris tidak ada waktu istirahat untuk Ibu. Aku tidak ingin melihat Ibu terus-terusan dalam kelelahan. Aku mulai mencari pekerjaan di waktu-waktu senggang kuliahku. Dengan kemampuan bahasa inggrs yang ku miliki alhamdulilah aku di terima mengajar di salah satu sekolah di sekitar kostanku. Honor yang ku terima dari mengajar bisa sedikit meringankan beban Ibu.
***
Malam semakin larut, nyanyian jangkrik semakin syahdu, namun jemari-jemariku masih tetap menari-nari di atas tust komputerku. Sekarang aku telah memasuki sdmester akhir dalam dunia perkuliahan. Aku harus pintar membagi waktu antara jadwal mengjar dan kuliahku yang insya ALLAH akan ku selesaikan tahun ini.
Mengajar seharian tidak membuat lelah jiwaku untuk terus mengajar, aku jadi teringat ucapan Ibu,”menjadi seorang guru bukan sekedar mengajar atau hanya sekedar duduk memberikan materi pada siswa, tapi tugas utama seorang guru adalah mendidik, mendidik harapan bangsa dengan moral, etika, dan agama agar nanti para harapan bangsa bisa memberikan perubahan pada dunia, sentiasa membuat dunia ini tersenyum di usia dunia yang mulai senja”. Andai semua guru berpikiran seperti ibu.
Deringan hpku membuat jemariku terhenti menari di tust-tust komputer, siapa yang menelpon malam-malam begini? Ku lirik hpku “Ibu”desisku. Ada apa Ibu menelpon malam-malam begini? Rasa penasaran mengusik hatiku.
“Assalamualaiku” ku angkat telpon dari Ibu
”waalaikum salam” terdengar suara Ibu menjawab salamku
”Ibu apa kabar?” Ada apa bu nelpon malam-malam gini?” tanyaku penasaran
”alhmdulilah Ibu sehat,gak ada apa-apa, Ibu kangen pengen dengar suara Naila” perkataan Ibu membuat seulas senyum terukir di bibirku
” Naila apa kabar?sehatkan?”
”alhmdulilah naila sehat”
”ko' belum tidur?” tanya Ibu kembali
” ni lagi sibuk ngetik skripsi, ibu doakan Naila ya bisa wisuda tahun ini!!”
”doa ibu selalu menyertai naila,tetap jaga kesehatan ya saying!!”
” makasih ya bu, oya Ari apa kabar bu?” aku penasaran ingin mengetahui kabar adek semata wayang ku itu
”alhmdulilah sehat, ni dia ada di samping Ibu, tadi nemenin Ibu sholat, Naila mau bicara sama Ari?” jawab Ibu gembira merasakan perhtian ku pada Ari
” bolehlah bu, udah lama rasanya naila gak dengar suara ari” sambil tersenyum aku menunggu sapaan Ari
”Assalamualaikum”suara yang di seberang sana tidak asing lagi di daun telingaku
”waalaikum salam, Ari apa kabar? sehat? tanyaku pada adek semata wayangku itu
”alhmdulilah Ari sehat, kakak sehat juga kan ?”
”alhmdlh kakak sehat”
”gimana kuliah kakak?”
”alhmdulilah lancar,doakan kakak bisa wisuda tahun ini ya dek!”
”doa Ari selalu ada untuk kakak”
”Ari gimana sekolahnya?belajar yang rajin ya!,dan tetap jagain Ibu”
”gak kakak minta Ari akan selalu jagain ibu,kak doakan Ari lulus di fakultas kedokteran,kalau Ari udah jadi dokter kakak khan bisa berobat gratis dengan dokter Ari hehehe.”
” selalu ada doa kakak untuk Ari,yang penting Ari belajar yang rajin, berdoa,kemudian tawakal, jangan mikir pacar mulu’ !!”
“ yee siapa juga yang mikirin pacar, kata kakak kan gak boleh pacaran???” iya kan kak???” Ari meminta kayakinan ku
“ masih ingat sama kata-kata kakak, kirain udah di lupakan”
“ mana mungkin Ari lupa sama kata-kata kakak tersayang hehehe”
Hampir satu jam aku berceloteh dengan adek semata wayangku itu.Ari gunawan adalah adekku yang baik, walaupun tidak sepenuhnya mendapat kasih sayang dari seorang ayah, tidak membuat Ari merasakan kesepian, tidak membuat Ari mencari kasih sayang yang lain di luar sana, tidak membuat Ari dendam dengan kondisi yang di alaminya. Didikan ibu membuat Ari tumbuh menjadi anak yang soleh, tulusnya kasih sayang ibu,perhatian yang tak pernah berkurang sedikitpun. Rasanya telah lengkap kebahagiaanku walaupun tanpa kasih sayang seorang ayah.
Ya ALLAH terima kasih anugrah terindh yang KAU berikan untukku, mengirimkan seorang bidadari yang sentiasa membuatku tersenyum,yang sentiasa menghibur di saat gundah menyapa hatiku, bidadari yang mengepakkan sayapkan untuk melindungiku. Jagalah bidadariku ya ALLAH jangan biarkan satu butir air mata jatuh di pelupuk matanya,karna aku tidak ingin melihatnya bersedih.
Setiap kali aku menelpon dengan Ibu dan Ari membuat semngatku menglir kembali.I ngin ku percepat meraih toga kebesaran itu dan melihat senyuman Ibu dan Ari kepadaku.
***
Dua tahun kemudian
Setelah mendapat gelar S1 aku langsung di minta menjadi tenaga pengajar di salah satu universitas yang ada di Riau, dengan pertimbangan ipk ya alhamdlillah. Sekarang selain mengajar aku juga menyelesaikan kuliahku lanjut ke S2 di salah satu universitas yang ada di Riau juga, aku tidak ingin lagi berjauhan dengan Ibu . Ari alhmdlh dia berhasil masuk fakultas kedokteran.Sekarang sudah memasuki semester dua.
Kini di usia Ibu yang mulai senja, Ibu tidak harus bekerja keras lagi. ku tatap Ibu yang terlelap dalam tidurnya, ku tatap wajah ibu yang mulai berkerut, rambut ibu yang mulai memutih. Ku cium kening ibu dengan perasaan haru mengingat perjuangan Ibu selama ini. "ibu naila mencintai ibu".
Besok 22 Desember adalah hari Ibu. Aku telah mempesiapkan sebuah kado untuk Ibu
Jemariku mulai menulis di lembaran kertas putih menulis setiap kata cintaku untuk Ibu
Assalamualaikum
teruntuk ibuku tersayang
Ibu...aku tidak tau harus mulai dari mana mengayunkan penaku merangkai kata per kata sebagai ungkapan cintaku padamu
Baru kemaren rasanya aku tidur dalam pelukan hanga tIbu, baru kemaren rasanya Ibu menghapus air mataku, baru kemaren rasanya ibu berdongeng di setiap penghantar tidurku, baru kemaren rasanya Ibu mendengar celotehku, namun semua itu hanya akan menjadi kenangan indah antara aku dan Ibu
Ibu...kini aku mulai beranjak dewasa, mulai mengerti arti kehidupan, kehidupang yang penuh tangisan, luka, dan juga tawa
Ibu...aku akan tetap setegar terumbu karang ,aku akan sesabar kerang di lautan dengan kesabarnnya akan menghasilkan mutiara yang sangat indah seperti yangIibu ceritakan padaku dulu
Ibu..terima kasih tlah memberikan separoh napasmu untukku, terima kasih Ibu tlah menyelamatkanku walaupun Ibu harus melawan rasa sakit yang tak bisa ku bayangkan , terima kasih untuk keringatmu yang bercucuran untuk melihat aku bahagia, terima kasih Ibu untuk setiap doa-doa yang ibu senandungkan untukku, terima kasih untuk senyumanmu yang selalu ada menemani hari-hariku,terima kasih Ibu telah menjagaku hingga aku dewasa,terima kasuh Ibu tlah menggantikan sosok ayah untukku, terima kasih Ibu pelangi kehidupan yang tlah kau rangkai untukku
Ibu kaulah separoh napasku,kaulah inspirasiku,dan kaulah referensi di setiap langkah perjalananku
hanya ini yang bisa ku lakukan untukmu dan tentu tidak akan pernah sebanding dengan apa yang tlah ibu lakukan untukku
Ibu cintamu sehangat mentari yang tiada syarat apapun untuk memberikanku kehangatan,aku mencintaimu Ibu
bidadari kecilmu yang tlah beranjak dewasa
Naila fitriyah.
Ku selipkan surat cintaku untuk Ibu di sebuah kado yang tlah ku bungkus, ku letakkan kado itu di atas meja kecil yang ada di kamar Ibu. “Naila sayang sama Ibu”ucapku lirih sambil melangkahkan kaki meninggalkan kamar Ibu.


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda